![]() |
Lain dulu lain sekarang. Kondisi Pasar Pagi saat ini bikin para pedagang waswas. Penjualan sedang menurun drastis. Harga sewa dari Perumda Pasar Berintan dianggap memberatkan. Sedikitnya sekitar 100 kios tutup. Pertanda redup di Pasar Pagi?
=======================
DAHULU di Pasar Pagi, gaya fashion terbaru bisa didapat dengan harga lebih ekonomis dari versi mal. Pasar yang berada di Jl Siliwangi, Kota Cirebon, itu menjadi jujugan belanja fashion. Sampai-sampai ada istilah; belum afdal ke Kota Cirebon kalau belum belanja pakaian ke Pasar Pagi.
Tapi kini, penjualan sedang menurun. Aktivitas pedagang tak seramai dulu. Kios di lorong 1-3 dari depan masih ada aktivitas dan pengunjung yang lewat. Namun semakin ke belakang, banyak kios tutup dan tak banyak lalu-lalang pembeli.
Aktivitas pedagang dan karyawan lebih banyak duduk menunggu konsumen atau mengobrol dengan sesama pedagang. Kenapa?
Salah satu pengisi kios area tengah sejak tahun 2011 lalu, Ani, sedang duduk saat ditemui wartawan Radar Cirebon. Kiosnya menjual tas anak, tas sekolah, hingga tas perempuan.
Sayangnya sejak beberapa hari lalu Ani tidak melayani satu pun pelanggan. Awal berdagang, Ani bisa belanja setiap Minggu untuk memenuhi permintaan para pelanggannya.
Namun kini, belanja setahun sekali saat tahun ajaran baru pun tidak banyak berpengaruh. Biasanya momen Ramadan dan Lebaran bisa menutup sepinya penjualan selama setahun.
Namun kini teori itu tak berlaku. “Dulu jualan bisa bawa pulang seenggaknya Rp 500 ribu atau kalau akhir pekan Rp 1 juta. Sekarang dari pagi sering nggak jualan,” katanya.
Tetangga kios Ani bahkan sudah banyak yang tutup. Ditambah lorong minim penerangan dan sampah di sejumlah titik. Pedagang fashion memang paling merasakan kondisi pasar yang semakin sepi.
Bukan hanya karena daya beli, jualan online rupanya memberi pengaruh besar bagi para pedagang tradisional yang tak bersentuhan dengan gadget. Ani benar-benar mengandalkan konsumen datang lalu menawar barang dagangannya.
Hal tersebut menjadi salah satu sebab sepinya pasar. Alasan lainnya, pasar malam yang makin menjamur dengan produk jualan serupa, adanya pusat perbelanjaan di tiap daerah, ditambah dengan pasar-pasar fashion yang hadir setiap hari Minggu pagi, seperti di kompleks Bima dan lokasi lainnya.
“Kalau dulu Pasar Pagi menjadi sentral belanja darimana saja. Sekarang yang dijual di sini juga dijual di pasar malam atau pakai mobil di pinggir jalan,” sebutnya.
Ani sendiri berencana masih memperpanjang masa sewa di area depan, karena tidak tahu harus mencari lapak jualan lain. Opsi lainnya, berjualan kaki lima.
Hingga kini semua pedagang Pasar Pagi masih menunggu kesepakatan harga yang lebih masuk akal dari Perumda Pasar. Menurutnya, pedagang di area depan pun sebenarnya sudah tidak seperti dulu. Tapi setidaknya masih ada konsumen yang lewat dan mampir.
Kondisi serupa juga dialami Dewi, pemilik kios beras yang berdagang sejak 1998. Kini omzetnya turun hingga 50 persen sejak 2014 lalu.
Dewi merasa beruntung, sebab masih mengelola sawah. Baginya kini tidak bisa hanya mengandalkan dari berdagang. Contohnya beberapa teman pedagang berasnya hingga kini sudah ada 6 kios yang tutup.
Belum lagi pedagang dan karyawan harus membayar setiap kali parkir dan ke kamar mandi. Semua serba bayar, tak sejalan dengan minimnya perawatan pasar.
“Alhamdulillah masih bisa jualan walau kondisinya jauh berbeda,” akunya.
Pedagang sayur di los belakang yang biasa disapa Mama Eka mengaku penjualan dan stok turun sejak beberapa tahun lalu. Sebelumnya satu hari bisa menghabiskan satu kuintal sayuran dengan omzet hingga Rp1 juta.
Miris kini hanya menjual beberapa kilo saja. Pembeli pun tidak sebanyak dulu.
Untuk itu sejumlah pedagang los memilih membuka lapak sementara di bahu jalan dalam pasar. Sehingga lebih banyak dilewati pengunjung.
“Walaupun menurun ya disyukuri saja. Alhamdulillah saya masih bisa jualan. Masih banyak yang tutup dan nggak melayani sama sekali,” imbuhnya.
Ketua Ikatan Pedagang Pasar Pagi, Lutfi, mengatakan, jumlah kios dari depan ke belakang yang berbatasan dengan jalan menuju los sekitar 300 kios. Namun sudah sekitar 100 kios tutup.
Sebagian besar kios menjual fashion. Sisanya ada toko perhiasan, kosmetik, oleh-oleh khas Cirebon dan warung makan.
Lutfi sendiri tak tahu pasti alasan pedagang menutup kiosnya. Namun rata-rata memilih pindah lapak sebelum masa sewa berakhir.
“Mungkin gak kuat karena gak banyak jualan. Tapi kurang tahu juga ya,” ucapnya Lutfi saat dihubungi melalui telepon selular.
Kios bagian depan bisa dikatakan lebih baik dibanding area dalam. Lutfi yang sudah berjualan 30 tahun itu merasakan masa kejayaan Pasar Pagi saat menjadi tujuan belanja fashion dari berbagai penjuru.
Saking jayanya, Lutfi membuat pribahasa, “belum afdal ke Cirebon kalau belum mampir ke Pasar Pagi.”
Lutfi sendiri memiliki kios fashion muslim di depan. Kondisinya jauh dibanding beberapa tahun lalu.
Baik pengunjung yang mulai berkurang, omzet, hingga stok. Lutfi kini memilih menyesuaikan stok dengan penjualan agar lebih seimbang.
“Kalau kios di depan lumayan masih bisa jualan walau gak kayak dulu. Saya pribadi omzetnya kira-kira turun 20 persen. itu pun dibantu jualan online sama anak,” tuturnya.
Sementara itu, kepastian harga perpanjangan sewa dari Perumda Pasar Berintan untuk 10 tahun ke depan masih dinanti pedagang. Kontrak sendiri disebut akan berakhir sekitar April atau Mei 2018 dengan opsi perpanjangan 10 tahun. Perpanjangan mengikuti masa kontrak Pusat Grosir Cirebon (PGC).
Baru-baru ini pedagang los dan kios merasa keberatan dengan harga yang dikeluarkan Perumda Pasar, yakni Rp 15 juta per meter untuk kios (rolling door) dan Rp 12 juta untuk los.
Salah satu pedagang yang menempati los Pasar Pagi, Azis (55) meminta keadilan atas penetapan harga sewa. Sebab, penjualan sekarang ini sudah tidak seperti dulu lagi. “Sekarang kondisi pasar gak seramai dulu, kalau Rp 12 juta berat,” ujar Azis.
Hal senada diungkapkan Tia (41) yang berjualan pisang di los belakang Pasar Pagi. Menurut informasi terakhir yang diterimanya, harga sewa masing-masing turun Rp 3 juta.
Kios semula Rp 15 juta menjadi Rp 12 juta dan los semula Rp 12 juta menjadi Rp 9 juta. Tia akan ikut suara terbanyak pedagang. Namun secara pribadi keberatan bila harga perpanjangan yang ditawarkan sebesar itu.
Belum lagi penjualan sudah tak setinggi beberapa tahun lalu. “Dulu sewanya kalau gak salah sekitar Rp 4-Rp 5 juta per meter, jadi kalau bisa perpanjangannya lebih terjangkau oleh pedagang,” tuturnya.
Sebelumnya, Ketua DPP Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kota Cirebon Agus Saputra menegaskan, hingga kini belum ada kesepakatan harga perpanjangan sewa Pasar Pagi.
Realitasnya harga yang keluar tidak seimbang dengan kondisi pasar. Misalnya, perpanjangan kios pasar Perumnas Rp 8 juta per meter dan Rp 6,5 juta untuk los per 20 tahun.
“Dengan asumsi harga awal perpanjangan sewa Pasar Pagi Rp 15 juta per meter untuk 10 tahun, kalau 20 tahun Rp 30 juta dan pedagang menempati bangunan lama. Apa Perumda nggak update terkait kondisi Pasar Pagi,” tanya dia.
APPSI punya kekhawatiran dari kejadian ini. Sebab bila angka tersebut terealisasi akan ada kemungkinan berkurangnya pedagang Pasar Pagi.
Pedagang yang mampu membayar bisa lanjut. Namun bagi yang tidak mampu memenuhi biaya perpanjangan, opsinya cari lapak baru yang lebih terjangkau.
Padahal gairah masyarakat untuk kembali ke pasar tradisioal harus lebih gencar dilakukan. “Akan jadi apa pasar tradisional kalau begini,” tandasnya. (tta)
Sumber: Radar Cirebon
http://ift.tt/eA8V8J


0 komentar :
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan sopan.