Header banner 728 x 90
  
Mohon maaf sedang ada penataan menu & label   

Ade Mulyani, 10 Tahun Mengeluti Profesi sebagai Tukang Tambal Ban

CIREBON apdet
Cirebon Terkini

---


KUNINGAN – Berkutat dengan ban bocor, oli dan kampas rem menjadi keseharian Ade Mulyani (32). Di bengkel kecilnya yang berlokasi persis di samping lampu merah persimpangan Cirendang, Ade melayani “pasien” hingga lebih dari 10 kendaraan per hari.

Tidak hanya menambal ban yang bocor, Ade juga melayani jasa ganti ban, ganti kampas rem hingga ganti oli sanggup dikerjakan ibu dua anak tersebut dengan tekun dan teliti.

“Yang penting tahu celahnya, membongkar dan memasang ban bukan sesuatu yang sulit. Memang untuk ban mobil agak susah, karena harus pakai tenaga besar,” ujar Ade mengawali perbincangan dengan Radar Kuningan.

Menjalani profesi sebagai tukang tambal ban telah dilakoni Ade selama hampir 10 tahun. Bermula dari hanya membantu sang suami menjalani usaha bengkel tambal ban di persimpangan Jalan Raya Cirendang, kini Ade mengelola bengkel keluarga tersebut dengan dibantu seorang montir.

“Awalnya hanya dari melihat suami menambal ban, kemudian mencoba sendiri tanpa diajari ternyata bisa. Alhamdulillah sekarang bengkel tambal ban saya yang jaga, sedangkan suami fokus menjalani bengkel per di sebelah,” ujar Ade.

Ade mengaku tak malu menjalani profesi sebagai tukang tambal ban yang setiap hari harus belepotan oli dan debu kendaraan. Pekerjaan apa pun, kata Ade, selama dilakukan dengan ikhlas dan tidak melanggar hukum tak perlu malu menjalaninya.

“Daripada di rumah bengong atau bergosip dengan tetangga, lebih baik membantu suami bekerja di bengkel. Yang penting halal,” kata Ade.

Kesibukan Ade mengais rupiah sebagai tukang tambal ban, ternyata tidak menjadikannya lupa dengan kodratnya sebagai ibu rumah tangga yang harus mengurus suami dan dua anaknya. Pagi hari sebelum menjaga bengkelnya, Ade selalu menyempatkan diri untuk masak dan mengurus segala persiapan kedua anaknya yang akan berangkat sekolah.

“Kalau yang besar sudah kelas 4 SD bisa berangkat sekolah sendiri, sedangkan yang kecil masih TK harus saya tunggu hingga pulang jam 10.00 WIB. Baru setelah anak pulang sekolah saya di bengkel hingga sore hari bahkan hingga malam bergantian dengan suami,” kata Ade.

Bertepatan dengan Hari Kartini, Ade mengaku bangga menjadi salah satu wanita yang bisa menjalani pekerjaan yang lazim dilakoni kaum pria tersebut. Meski hanya seorang wanita, dia bisa membuktikan hasil pekerjaannya menambal ban dan lainnya bisa dilakukan dengan baik bahkan lebih rapi dibandingkan montir laki-laki.

“Banyak yang kaget saat datang ingin menambal ban melihat yang mengerjakan ternyata oleh perempuan. Tapi mereka cukup puas setelah melihat pekerjaan saya, bahkan tak sedikit yang sengaja datang lagi untuk ganti ban, kampas rem atau ganti oli ke sini,” ujar Ade. (fik/habis)


---

Sumber: Radar Cirebon
https://ift.tt/eA8V8J
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan berkomentar dengan sopan.