Header banner 728 x 90
  
Mohon maaf sedang ada penataan menu & label   

Radar Cirebon Inisiasi Panggung Apresiasi Puisi

CIREBON apdet
Cirebon Terkini

---


CIREBON – Panggung kecil menjadi tempat para penyair tampil di halaman parkir Graha Pena Radar Cirebon, Jumat (30/9) malam. Acara yang diusung Radar Cirebon itu berlangsung sederhana namun penuh makna.

General Manager Radar Cirebon Toto Suwarto mengatakan, malam puisi sebagai bentuk apresiasi para pegiat sastra. Malam puisi yang perdana ini sebuah kegiatan “pemanasan”. Karena malam puisi akan digelar rutin.

“Artinya sebuah awal untuk memacu semangat sastra di Cirebon. Sebagai wadah untuk para pegiat sastra yang gelisah,” ujarnya.

Malam puisi berangkat dari Radar Cirebon yang menampung karya sastra puisi dari para pembaca yang diterbitkan di halaman khusus “Hari Puisi” setiap Sabtu. “Awal yang sederhana, semoga malam puisi berikutnya lebih megah dan istimewa,” harapnya.

Acara malam itu mengalir dan larut dalam sajak-sajak yang dibacakan para penyair. Ada Nissa Rengganis dari Komunitas Rumah Kertas yang membacakan puisi karyanya sendiri dalam antologi puisi Manuskrip Sepi.

Redaktur Pelaksana, Khairul Anwar pun ikut baca puisi. Ada juga dari Komunitas Senja Sastra.

Kemudian ada penyair Edeng Syamsul Ma’arif yang tampil memesona. Bahkan, ada pula para jurnalis yang turut membacakan puisi menghangatkan suasana.

Di sela-sela pembacaan puisi, Nissa Rengganis mengatakan, malam puisi yang digelar Radar Cirebon bertepatan dengan ulang tahun Komunitas Rumah Kertas yang keempat.

Nissa mengaku senang karena malam puisi sangat mengapresiasi para pegiat sastra. Termasuk komunitasnya.

“Terima kasih untuk Radar, sebuah kehormatan karena dengan malam puisi kita merasa punya wadah,” ungkapnya.

Sementara itu, Fathan Mubarak yang juga dari Komunitas Rumah Kertas turut hadir dalam malam puisi. Fathan tidak membacakan puisi, tapi orasi budaya.

“Saya gak usah baca puisi ya, gak bisa, bisa sih tapi jelek nanti,” ujarnya merendah saat diminta tampil.

Dalam kesempatan itu, Fathan berpendapat bahwa puisi bukan sekadar kata-kata yang indah dan mendayu-dayu layaknya lagu melayu. “Puisi, memiliki spritualitas dan ruh tersendiri,” tukasnya. (mik)


---

Sumber: Radar Cirebon Online
http://ift.tt/eA8V8J
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar

Silakan berkomentar dengan sopan.